Masturbasi Intelektual Kaum Terpelajar

Mencegah masturbasi intelektual di kalangan kaum terpelajar.
Masturbasi Intelektual

Kondisi masturbasi intelektual terlihat rawan dan juga miris dikalangan kaum terpelajar; khususnya mahasiswa. Pasalnya mahasiswa yang sering berdiskusi akan kaget ketika melihat kehidupan sebenarnya di dunia luar kampus dan lapangan kerja nyata. Masturbasi (onani) intelektual diartikan sebagai kaum intelek yang menguasai keilmuan tertentu namun tidak diamalkannya secara meluas, baik terhadap masyarakat umum atau kepentingan bersama. Namun hanya menyimpan dan menikmati "kepintarannya" sebagai kepuasan diri sendiri.

Kaum intelektual, khususnya mahasiswa, bisa digolongkan menjadi 3 kriteria:

  1. Kaum intelektual dengan ilmu pengetahuannya yang bisa diterapkan di kehidupan masyarakat atau yang membutuhkan pengetahuannya tsb. Mungkin ini termasuk kaum intelektual yang baik.

  2. Kaum intelektual dengan ilmu pengetahuannya yang dimiliki hanya untuk disimpan dan dinikmati oleh dirinya sendiri. Merasa "ogah" karena sudah mengeluarkan kerja keras dan jeri payahnya untuk mendapatkan ilmu tersebut (contoh pelaku masturbasi intelektual).

  3. Kaum intelektual yang memiliki potensi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan namun kebingungan dengan apa yang dimilikinya. Tidak bisa dinikmati sendiri maupun diterapkan di masyarakat. Situasi terlihat seperti "ketololan" yang dilematis karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Walau bingung adalah awal dari pengetahuan, tetap saja orang bingung akan kesulitan mencari jalan keluar.

Apa yang harus dilakukan sebagai kaum intelek yang konon katanya agen perubahan (agent of changes) dalam menghadapai problematika keilmuan ini?

Untuk kriteria ke-2, tindakan pencegahan orang melakukan masturbasi intelektual, kita harus memberi pertanyaan untuk memancing kesadaran para pelaku masturbasi.

  • Seberapa tidak penting apakah orang lain untuk kita?
  • Apakah mau melakukan masturbasi intelektual seumur hidup?
Memang harus diperlukan kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan harus diutamakan, tak lupa melihat nasib pendidikan bangsa ini masih jauh dari kata sejahtera. 

Untuk kriteria ke-3, memang lebih miris. Apa gunanya kita memasuki dunia keilmuan (dibaca; kuliah) jika tidak ada yang bisa kita pahami dan memengaruhi kita dalam bersikap yang lebih positif?

Kesadaran memang sangat diperlukan untuk situasi seperti ini. Dosa terbesar manusia adalah hanya berdiam diri dengan tidak berbuat apa-apa ditengah potensi keilmuan yang dimiliki. Bersikap seolah-olah baik-baik saja ditengah kekacauan yang berada di sekitarnya.

Penutup

Bersaing ilmu adalah feodalisme kekinian, ilmu yang lebih tinggi akan lebih dihargai, lebih banyak teman, tidak mudah diremehkan orang, dan sangat menyenangkan. Harus kita sadari dengan lebih bijak, jangan menyimpannya untuk sendiri, manfaatkan ilmu yang kalian punya untuk diamalkan secara meluas dan bermanfaat bagi banyak orang.
"Hanya dengan kecerdasan jiwalah, manusia menuju arah kesejahteraan" - Ki Hajar Dewantara

Referensi:
Kompasiana.com
Quora.com
Indoprogress.com